Al –Qur’an dan Keistimewaannya

1 Jan

           Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa al-Qur’an merupakan mukjizat dari Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril, yang hingga sekarang masih bisa dirasakan kemukjizatannya, al-Qur’an merupakan mukzizat terbesar dari seluruh mukjizat yang pernah ada yang diturunkan kepada para nabi dan rasul Allah, seperti mukjizat tongkat Nabi Musa yang bisa berubah menjadi ular dan membelah laut merah, kemampuan Nabi Isa yang dapat menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati, serta tubuh Nabi Ibrahim yang kebal dari api raja Namrud.

             Kemukjizatan yang dimiliki al-Qur’an memiliki kelebihan dibandingkan dengan kitab-kitab terdahulu, (Injil, zabur, dan Taurat), yang didalamnya menceritakan tentang kehidupan masa lampau, (terdahulu) masa sekarang, (yang sekarang yang sedang kita jalani), dan masa yang akan datang, (kehidupan akhirat). Baca saja Qur’an surat Al’ala  surat ke {87}”.

Al-Qur’an memiliki berbagai keistimewaan dan manfaat yang besar serta kebaikan yang banyak, di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu Allah memberi nama dan sifat kepada Al-Qur’an dengan  mulia dan agung. Diantaranya:

                1.Al-Qur’an Adalah Firman Allah (Q.S. {9} At-taubah : 6)

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ (٦)

            “Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (Q.S. {9} At-taubah : 6).

      selain itu al-Qur’an juga mengandung kebenaran, pembawa peringatan, dan sebagai pemberi kabar gembira. firman Allah (Q.S. Al-Isra {17} : 105}.

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Q.S. Al-Isra {17} : 105}.

Karena itu, agar bisa memaknai Al-Qur’an sebagai firman Allah, maka ketika kita membaca Al-Qur’an sudah seharusnya membacanya dengan tartil serta berkonsentrasi tinggi dan menghayatinya kalau bisa kita rasakan seolah-olah kita sedang berdialog dengan Allah, dan seakan-akan Allah dihadapan kita, insya Allah ketika kita membacanya akan terasa lebih nikmat dan terasa  sejuk di hati, tidak hanya itu saja kita harus menyimak, memahami, serta menghayati firman-Nya, agar kita paham betul apa yang terkandung didalam ayat suci Al-Qur’an. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an  yang menceritakan tentang kisah-kisah umat yang terdahulu kepada kita agar menjadi pelajaran yang berarti bagi kehidupan kita, contohnya kisah raja Fir’aun, dan lain-lain. Tidak hanya itu saja, al-Qur’an juga menjelaskan tentang hakikat kebenaran dan kebatilan, sehingga kita bisa menjadi pribadi yang terhormat disisi-Nya. Karena kehormatan dan kemuliaan tidak ada yang lebih tinggi bagi seorang hamba kecuali datang dari Allah yang Maha tinggi dan yang Maha Mulia.

               2.  Al-Qur’an Sebagai Petunjuk (al- Huda)

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلا يَخَافُ بَخْسًا وَلا رَهَقًا (١٣)

                                                                                                                                                                                                                                                                                        Dan Sesungguhnya Kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), Kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, Maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (Q.S. Al-Jin {72} :13

             Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT pada hakikatnya sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, agar manusia tidak tersesat dalam gemerlapnya dunia dan silau dunia. Selain itu, sebagai pedoman hidup bagi manusia. Oleh karena itu dianjurkan, bahkan wajib berpegang teguh kepada Al-Quran agar kita tidak tersesat dan terjerumus kepada ajakan Syaitan.

al-Qur'an sebagai petunjuk

Petunjuk adalah hakikat dasar al-Qur’an. Karena ia diturunkan Allah ke muka bumi dengan tujuan pokok untuk memberi petunjuk kepada manusia dalam seluruh aspek hidup dan kehidupannya sehingga mengantarkannya sebagai makhluk yang mulia dan juga bahagia. firman Allah SWT, (Q.S. An-Nahl {16} : 89)

 

  وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

 

“Dan Kami (Allah) turunkan kepadamu Al kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (Q.S. An-Nahl {16} : 89)

Al-Qur’an diturunkan untuk menuntun dan memberikan ketetapan-ketetapan yang benar. Sesungguhnya Allah tidak pernah menyia-nyiakan makhluk-Nya, termasuk manusia. Hanya saja manusialah yang berbuat aniaya. Al-Qur’an adalah petunjuk yang datang dari-Nya dan merupakan bukti kasih sayang-Nya kepada umat manusia, khususnya umat Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu sudah seharusnya kita menjadikannya sebagai pedoman hidup dan cermin budi pekerti, sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Muhammad panutan kita . beliau terkenal dengan kemuliaan akhlaknya.

             Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat (Al-Qalam {68} : 4)

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)

             “Dan Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Al-Qalam {68} : 4)

           Aisyah r.a. pernah mengatakan bahwasanya” Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an”. (H.R. Bukhari). Ini berarti kita sebagai umat Nabi Muhammad harus benar-benar menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

             3. Al-Qur’an sebagai penyembuh (asy-Syifa)

             Menurut Dosen saya, Frof. Suwito, (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). didalam bahasa Arab disebutkan hati itu ada 3 (tiga), yang pertama (الصدور), (Q.S. An-Nas: {144}: 5). yang kedua (قلب), yang terakhir yaitu (فؤاد). Tetapi sebagian masyarakat lebih akrab ketika menggunakan kata (قلب).

         Qalb, dalam bahasa Arab berasal dari akar kata qa-la-ba yang artinya membalik. Qalb sering sekali membolak-balikan hati manusia. Dalam hati selalu terjadi timbal balik antara kekuatan baik dan kekuatan buruk. Kekuatan baik itu datangnya dari Allah dan kekuatan buruk itu datangnya dari syaithan. Oleh karena itu ketika kita hendak melakukan sesuatu, termasuk membaca al-Qur’an disyariatkan berta’awudz terlebih dahulu: A’udzubillahi minas syaithanir rajim bismillahirrahmanirrahim”. (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang dikutuk), agar kita terhindar dari keburukan yang tidak diinginkan.

al-Qur'an sebagai penyembuh

            Al-Qur’an memiliki kekuatan yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit hati, seperti riya, sombong, berburuk sangka, dan segala macam penyakit hati yang tercela lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam (Q.S. {10} Yunus : 57).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (٥٧)

          “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. {10} Yunus : 57).

               Semoga saja kita termasuk orang-orang yang bisa mengamalkan al-Qur’an setiap hari baik itu kepada diri sendiri, keluarga, dan kepada orang lain. Amien ya rabal’ alamin..

PERJALANANKU

10 Des

Di pagi yang sejuk, kira-kira waktu menunjukan pukul 04.25  ada seorang pemuda yang masuk ke kamarku,dan membuka pintu kamarku. “kreeeek… (suara pintu kamar), aku terbangun dan aku melihat sosok pemuda itu dan ternyata pemuda itu Fahmi temanku. Kemudian dia memberitahukan kepadaku bahwa hari telah pagi buta dan saatnya untuk melaksanakan sholat subuh.

Dengan segera ku langkahkan kaki untuk mengmbil air wudhu guna mensucikan diri untuk melaksanakan kewajibanku kepada sang Khalik yaitu sholat subuh. Usai shalat subuh tiba –tiba ada panggilan untukku dari  ketua yayasan, karena semalam aku telah melakukan kesalahan yaitu kabur dari asrama tanpa izin kepada  ketua yayasan. Daaag.. diiig.. duuug.., (suara detak jantungku)”. Aku merasa tak kuasa untuk melangkahkan kaki ke rumah ketua yayasan, tapi bagaimanapun juga aku harus tetap menghadapinya, mereka sudah aku anggap sebagai orang tuaku di yayasan bait al-hasan, jadi mengapa aku harus takut?”.  Segera kulangkahkan kaki menuju rumah ketua yayasan “BAH”. Sesampainya disana aku melihat bunda Lies dan ayah Hasnil sedang membaca Al-Qur’an, jadi aku menunggu sejenak sambil mendengarkan mereka membaca Ayat-ayat suci Al-quran. Seusai mereka membaca Al-Qur’an kemudian aku mengucapkan salam, “ Assalamualaikum.. kulihat raut wajah mereka yang penuh kemarahan. Kemudian aku dipersilahkan duduk, akibat perbuatanku semalam sehingga bunda Lies tidak mau menerima salam tanganku, perasaanku tidak enak sehingga aku tidak berani untuk menatap wajah ayah Hasnil yang ketika itu sedang berhadapan denganku. Aku merasa sangat senang sekali karena ayah Hasnil tidak marah kepadaku melainkan aku diberi pengarahan agar aku tidak mengulangi hal tersebut.

Waktu menunjukan pukul 07.00 WIB. Dengan segera aku merapihkan diri untuk berangkat ke kampus. Setibanya di kampus aku melihat teman – teman  berkumpul di atas lantai tujuh dengan berbagai pembicaraan mulai dari membicarakan pelajaran pada hari itu, membicarakan makalah, tugas–tugas yang di berikan dosen, serta membicarakan hal yang lainnya, kita asyik berbincang–bincang karena pada pagi itu dosen memang tidak hadir.

Fuad…seru siroj seorang teman sekelasku, Iya roj ada apa? Ujarku…

Hari ini kita akan observasi ke SMP Al-Ijtihad di Tangerang apakah kamu sudah mempersiapkan semuanya ? ujar Siroj,..

Tentu saja, aku sudah mempersiapkan semuanya, jawabku”. atas pertanyaan Siroj, Baiklah, mana teman–teman kelompok kita yang lain? alangkah lebih baiknya kita briefing dulu sebelum berangkat ke tempat observasi.

Oke.. ujar Siroj, dan kami segera mengumpulkan teman–teman yang lain untuk segera briefing, Selesai briefing kami segera Berkumpul di halte UIN untuk menunggu angkutan umum yang akan membawa kami menuju halte busway karena untuk menghemat pengeluaran kami maka kami sepakat untuk naik busway.

Angkutan umum yang ditunggu pun akhirnya tiba maka kami sekelompok segera menaiki angkutan umum itu dan segera menuju ke terminal Lebak Bulus. Setibanya disana maka kami membeli tiket busway kami pun mengantri sebentar, setelah beberapa menit kemudian tibalah busway yang menghantarkan kami ke halte harmoni setelah itu transit ke halte-halte selanjutnya, diperjalanan aku melihat sebagian dari teman-temanku tertidur, mungkin mereka capek. Dan aku mengobrol dengan Ihda yang duduk disampingku, dan Nia yang duduk didepanku. Obrolan kami membicarakan tentang hal-hal yang akan kami lakukan disana ketika nanti observasi. Setelah keasyikan mengobrol  kamipun tertidur karena perjalanan kami lumayan cukup jauh. Tak lama kemudian akupun hendak terbangun, karena mendengar suara klakson mobil busway yang mengganggu telingaku, sambil menikmati perjalanan di busway aku melihat seorang supir busway yang sedang asyik mengemudikan mobil  memakai dasi dan menggunakan jas berwarwarna hitam, dan aku melihat ke sebelah kananku banyak diantara penumpang yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Hemm… rasanya aku beruntung sekali karena mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Aku melihat dari jendela busway terdapat bangunan-bangunan yang tinggi, serta toko-toko yang berderetan, rasanya hatiku merasa kecewa terhadap pemerintahan sekarang karena mengapa pemerintah kita tidak menggerakan rakyat untuk membuat gerakan menanam seribu pohon. Toh pada kenyataannya pohon-pohon di Negara kita ditebang begitu saja, dan lahannya dijadikan sebagai  mall, carefour, dan toko-toko yang lainnya  Sehingga dengan bangunan-bangunan yang padat tersebut akan menyebabkan panas yang begitu menyengat khususnya di kota Jakarta.

foto bersama pak Syaripudin

Tidak lama kemudian, akhirnya Kamipun tiba di SMP Al-Ijtihad, kira-kira waktu menunjukan pukul 11.00 WIB. Dan aku mengajak teman-teman untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melakukan observasi karena perut kami lumayan lapar, akhirnya kamipun melangkahkan kaki menuju kantin SMP Al-Ijtihad. Aku, Siroj, Nia, dan Ihda makan siomay, sedangkan Hera, Yofy, Fitra, dan Muty makan bakso. Mmmm.. rasanya weeenaaak sekali dan harganya pun dapat dijangkau oleh anak-anak sekolah, hanya dengan uang empat ribu rupiah kita bisa menikmati satu mangkok bakso dan siomay. Setelah makan maka kamipun melaksanakan shalat Dhuhur berjamaah. Setelah itu kami menemui guru bahasa arab yang bernama pak Syaripudin. Kami mengobrol sebentar membicarakan tentang tekhnik nanti ketika kami observasi  setelah itu pak Syaripudin memperkenalkan kami kepada siswa kelas delapan A. dan kamipun memperkenalkan diri satu persatu setelah itu maka kami memulai observasi, observasi kami yaitu tentang bagaimana cara guru menggunakan metode dalam mengajar, apakah itu metode dengar ucap, metode qiraah (metode membaca) ataupun metode-metode yang lainnya. Kemudian bagaimana respon siswa terhadap guru?  Setelah kami simak ternyata pak Syaripudin menggunakan metode qira’ah yaitu metode membaca, dengan cara guru menunjuk salah satu dari siswa untuk membaca tulisan Arab. Alhamdulillah setelah kami simak ternyata mayoritas dari siswa-siswi SMP Al-Ijtihad yang sudah bisa membaca tulisan arab lumayan banyak, walaupun sebagian dari mereka dalam membaca huruf arab ada yang mendapatkan kesulitan. Setelah melakukan observasi maka kami melakukan wawancara kepada siswa bagaimana dengan pembelajaran bahasa arab? apakah menyenangkan? Kebanyakan dari mereka menjawab sulit, memang untuk belajar bahasa arab cukup sulit, tetapi kalau dipelajari dengan sungguh-sungguh insya Allah Dia akan memberikan kemudahan bagi kita.

من جد وجد

“man jadda wa jadda”

Kalimat ajaib berbahasa Arab ini bermakna ringkas tapi tegas:

”Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”.

Setelah melakukan observasi kita mencoba melakukan wawancara dengan pak Syaripudin tentang bagaimana cara pak Syaripudin menghadapi anak-anak yang masih awam belajar bahasa arab, berbagai pertanyaan telah kami ajukan maka setelah itu kamipun pamit kepada siswa-siswi SMP Al-Ijtihad terutama kepada pak Syaripudin. Setelah melakukan observasi kami rencananya ingin berkunjung ke tempatnya Ihda yang kebetulan rumahnya di tangerang. Kamipun naik angkutan umum jurusan kalideres. Setibanya di Rumah Ihda, ternyata Ibunya Ihda sudah mempersiapkan makanan untuk kami, kami dipersilahkan masuk. Tidak buang-buang waktu kamipun langsung melahap kue bolu dan kue lapis yang disajikan ibunya Ihda, setelah itu kami shalat ashar berjamaah, setelah shalat ashar berjama’ah ibunya Ihda mempersilahkan kami untuk makan sore. wakh.. kebetulan sekali mata kami tak kuasa melihat telur balado dan ayam goreng yang berada dihadapan kami, sebelum makan kami membaca do’a terlebih dahulu maka kamipun menyantapnya dengan lahap sambil mengobrol penuh dengan canda tawa. Masakannya sangat enak sekali bu, ujar siroj kepada ibunya Ihda,” dimana ibu belajar masak? Dengan tersenyum ibunya Ihda menjawab, ibu mah sudah bisa masak dari kecil karena diajarin atuh sama mamah ibu ketika masih kecil, dengan logat sundanya, kebetulan ibunya Ihda asli bogor jadi logat sundanya masih melekat. Jelas atuh  karena makanannya gratis, ujar ihda”.. kami semua tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha.. hahahaha… hari sudah mulai sore akhirnya kamipun pamit kepada orangtuanya Ihda dan mengucapkan terimakasih karena sudah menerima kami sebagai tamu. ibunya Ihda mengantar kami sampai kedepan gang rumahnya, setelah itu kamipun naik angkutan umum menuju halte busway untuk pulang ke rumah, setibanya di halte pukul 17.00 WIB. Kamipun membeli tiket busway seharga tiga ribu lima ratus rupiah perorang, kamipun menunggu busway yang dapat mengantrkan kami menuju Lebak Bulus. Antrianpun berderet penuh kebelakang diperkirakan panjangnya 10 meter. Satu jam kami menunggu tetapi busway yang menuju lebak bulus tidak muncul juga, banyak keluhan dari para penumpang lain, seorang bapak-bapak setengah baya menanyakan kepada Security busway yang memakai celana training dan memakai baju merah. Pak, mengapa buswaynya belum datang-datang juga? padahal sudah satu jam kami menunggu, Security busway menjawab, sabar pak.. mungkin jalanan lagi macet. Memang di jam-jam seperti ini banyak orang pulang kerja sehingga menyebabkan jalan raya menjadi macet. Walaupun begitu tetapi kami tetap bersabar, kami menghadapi antrian itu dengan bercanda dan penuh tawa, harus bagaimana lagi toh pada kenyataannya mobil buswaynya belum datang walaupun dengan marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah. Karena kami percaya Allah akan selalu bersama orang-orang yang sabar. Sebagaimana dalam firman nya Q.S Al- Baqarah ayat 153

يا أيها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة إن الله مع الصابرين

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

(Q.S. Al- Baqarah {2} :153)

Sudah dua jam kami menunggu, akhirnya busway yang mengantarkan kami tiba, kemudian kami berdesak-desakan dengan penumpang yang lain. Alhamdulillah kami semua mendapatkan tempat duduk yang nyaman sementara banyak penumpang yang lain tidak mendapatkan tempat duduk. Mungkin kami terlalu capek seharian mengadakan perjalanan akhirnya kamipun semua ketiduran di busway. Diperjalanan aku tidak merasa nyaman tidur di busway karena pernapasanku terasa terganggu oleh banyaknya penumpang yang mengelilingku, aku melihat Siroj, Nia, dan Muty, yang ketika itu duduk didepanku mereka tertidur lelap mungkin karena seharian tadi mereka kecapean. Tidak terasa kamipun telah sampai di terminal Lebak Bulus akhirnya kamipun pulang ke rumah dan ke kosan masing-masing. Alangkah indahnya perjalanan ini, walaupun capek tetapi aku merasa senang karena perjalanan hari ini membawa manfaat bagiku, mulai dari observasi ke SMP Al-Ijtihad, naik busway, dan yang tidak kalahnya lagi mencicipi masakan ibunya Ihda, hmmmmmm… terasa enak di lidahku.. terimakasih teman-teman kalian telah membaca curhatanku, mudah-mudahan ada manfaatnya. Amiiiiin…

Mimpi Di Dalam Cita-Cita

11 Nov

Suatu hari ketika aku bangun pagi pikiranku teramat sangat lelah karena dikejar tugas yang sangat padat. Tugas UTS, tugas yayasan, dan tugas-tugas kampus. Ditambah lagi tugas hapalan Al-Qur’an yang belum selesai. Meski begitu, hatiku terasa amat senang karena dengan banyak tugas pengetahuanku semakin banyak bertambah. Dan waktuku tidak terbuang sia-sia.

Aku adalah seorang mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Tarbiyyah jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Dan kini aku tinggal di asrama bersama keempat teman-temanku, kita sebut saja namanya Fahmi dari Rembang, Samsudin dari Lombok, Fajar dari Pamulang, dan Ansori dari Mojokerto. Mereka sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri, bahkan sebagai keluarga. Bagaimana tidak, di tempat itulah kita berbagi cerita, suka, duka, canda, tawa, marah, benci, warnai kami, hiasi kisah kami. Walaupun pada kenyataannya kita sering ada “gesekan” kecil, yah itulah seni dalam hidup. Kadang ada candanya dan kadang ada “gesekan”nya juga. Tetapi perlu kita ketahui mempunyai banyak teman itu merupakan hal yang mengasyikan.

Kami tinggal di bawah naungan Yayasan Bait Al- Hasan, yang diketuai oleh Lies Hendriaty SE., kami memanggil beliau dengan panggilan akrab beliau, yaitu: Bunda. Di sini Kami dilatih dan dididik untuk menjadi manusia-manusia yang strong dalam mental dan dalam hidup. Karena sesungguhnya hidup ini keras. Tergantung bagaimana kita menjalani hidup ini. Selain Bunda Lies ada juga bunda-bunda yang selalu membimbing dan memotivasi kami, yakni Bunda Sufi dan Bunda Endah. Tanpa mereka mungkin hidup kami tak jelas tanpa arah. Disamping  itu, ada juga Ustadz Syukron dan Ustadzah Yayat (suami isteri), mereka selalu mengarahkan kami untuk selalu disiplin dalam waktu. Tanpa adanya kerja sama dari mereka mungkin Yayasan Bait Al- Hasan tidak akan berdiri kokoh seperti halnya sekarang. Karena dengan bekerjasama pekerjaan kita akan lebih terasa ringan serta nyaman. Sebagaimana firman Allah SWT dalam ( Q.S.  Al- Maidah {5} :2 )

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢)

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S. Al- Maidah {5} : 2)

Di suatu pagi yang indah, Aku terbangun menyambut senyuman mentari pagi dengan hati gembira yang penuh keceriaan dan diiringi semangat menggapai cita-cita. Kemudian Aku segera bergegas mengambil air wudhu untuk shalat Shubuh, tiba-tiba terbenak dalam pikiranku bahwasanya aku belum setor hapalan Al-Qur’an kepada ketua yayasan, memang setiap bulannya anak-anak Bait Al- Hasan dituntut untuk menghafal juz ‘amma, posting blog, dan membuat power point, yang temanya sendiri ditentukan oleh ketua yayasan (BAH) Bait Al- Hasan. Tujuannya tidak lain hanya untuk mencerdaskan anak-anak (BAH). Setelah shalat Subuh kemudian Aku membaca surat Al-Infitar dan Al-Muthafifin. Kedua surat tersebut memang agak panjang sehingga Aku kewalahan untuk menghafalnya, tetapi semangatku tidak mematahkan niatku untuk menghafal surat tersebut. Setelah itu aku bergegas untuk mandi dan rencananya setelah mandi aku ingin setoran ke Bunda Lies, anak-anak yang lain pun mengantri untuk setoran hafalan, aku mendapat antrian kedua setelah Fahmi, ketika itu ada sedikit kecelakaan yang sangat menghebohkan kami, tiba-tiba saja Fahmi secara tidak sengaja menekan meja belajar Bunda Lies sehingga meja beliau terjatuh ke lantai dan peralatan yang lain pun ikut jatuh seperti laptop, pot bunga, serta kertas-kertas jatuh berserakan di lantai. Dan akhirnya Mas Seno (supir Bunda Lies) yang memperbaiki meja tersebut. Kami pun ikut membantu membereskan barang-barang yang terjatuh.

Waktu sudah menunjukan pukul 07.10 sehingga akhirnya aku tidak meneruskan untuk hapalan karena aku harus berangkat kuliah, aku hendak pamit kepada Bunda Lies dan kepada sahabat-sahabatku yang di asrama. Sesampainya di kampus, wajahku sangat Bete karena Dosen yang mengajarku tidak hadir dan tidak ada kabarnya sedikitpun, kita sudah mencoba menghubungi dosen itu tetapi lagi-lagi tidak ada kabar dari dosen tersebut. Sehingga akhirnya kami melakukan sharing tanpa dosen. Detik jam pun berlalu, kami pun melaksanakan diskusi barcampur aduk canda dan tawa, ada yang lagi nelpon orang tuanya, ada yang berlalu lalang keluar kelas, dan ada juga yang makan di kelas saat diskusi sedang berlangsung, yah itulah kebiasaan buruk mahasiswa ketika sedang  tidak ada Dosen.

Waktu menunjukan pukul 13.00 WIB. Sinar terik matahari menyengat wajahku rasa lelah dan capek terasa di badanku, seolah-olah aku memikul beban yang teramat sangat berat. aku bingung tujuanku entah kemana, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke asrama tercinta (BAH). Sesampai di asrama aku sms bunda Lies karena aku ingin setoran hapalan. Beliau menjawab sms “nanti saja jam setengah empat ke rumah bundanya, bunda baru pulang fitness, cuapeeek banget… ba’da Ashar ya pukul 15.30. maaf.. kemudian dengan singkat aku menjawab“ iya Bunda.

Setelah itu Aku mempersiapkan untuk hapalan yakni surat Al- Infitar dan Al- Muthafifin, menurutku surat Al-Infitar agak lumayan mudah, tidak halnya dengan surat Al- Muthafifin, menurutku  surat itu cukup sulit untuk dihapal, hemm.. bagaimanapun juga Aku harus bisa menghapal kedua surat itu. Karena dengan keseriusan, keinginan, dan tekad yang kuat insya Allah, Allah akan memberi jalan keluar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al- Insyirah {94} ayat 6 yang berbunyi sebagai berikut:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦)

“  Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Dan Aku sangat percaya dengan hal itu. Dalam artian apabila kita bekerja keras pasti Allah memberikan kemudahan bagi kita.

Ketika aku hendak hapalan di rumah Bunda Lies, tiba-tiba terlihat di hadapanku datang seorang pemuda membukakan pintu gerbang, setelah Aku perhatikan lagi, ternyata dia sahabatku Ansori, dan dia memberitahukan kepadaku bahwa di asrama ada tamu. Ternyata aku baru ingat sore ini jadwal mengajar Iqra di asrama, dan Aku pun akhirnya meminta izin kepada Bunda Lies untuk mengajar Iqra Anak nya Bu Meri. Kita sebut saja namanya Raffi dan Farri, memang nama mereka hampir mirip karena mereka berdua adik kakak yang sholeh.

Pada awalnya aku mengajarkan kepada mereka tentang mengenalkan huruf hijaiyyah, cara pengucapan maupun tajwidnya, karena itu sangat penting sekali ketika kita membaca Al-Qur’an, apabila cara bacanya salah maka secara tidak langsung maknanya pun juga akan salah.

Setelah selesai mengajar aku ke rumah Bunda Lies untuk hapalan, surat Al- Infitar Alhamdulillah berjalan dengan lancar, ketika Aku membaca surat Al-Muthafifin hapalanku hilang entah kemana, yang tadinya hapal berubah menjadi 50 % lupa. Dan seterusnya aku di bantu sedikit-sedikit oleh bunda lies, setelah hapalan selesai terbenak dalam pikiranku, Upppss… sore ini pukul 17.00 Aku menjadi petugas do’a dan muhasabah, hampir saja aku lupa. Karena setiap hari Senin dan hari Kamis Yayasan Bait Al- Hasan selalu mengadakan kegiatan rutin buka puasa bersama.

Adzan magrib pun berkumandang, betapa gembiranya di hati kami ketika awal berbuka puasa mencicipi sop buah dari Bunda Lies, setelah berbuka puasa maka kami pun shalat maghrib berjamaah yang bertugas menjadi Imam shalat Magrib yaitu Ansori, dan bilal nya saya sendiri. Setelah shalat magrib berlangsung maka kami berdiskusi yang membawakan materi kali ini yakni Bunda Endah. Materinya tentang “Motivasi”. Kemudian beliau membagikan kertas kecil putih kepada kami lalu meminta kami untuk menuliskan cita-cita dan impian. Ujar bunda Endah “ Anak-anaku bunda minta tolong sekarang kalian tulis apa impian dan cita-cita yang ada di hati kalian, anak-anak menuliskan cita-cita dan impian mereka, setelah itu kita membacakan satu persatu bacaan yang ada di kertas itu, isinya unik sekali, ada yang impiannya menjadi Sekertaris, jadi Presiden, jadi Duta Negara, jadi Ibu Rumah Tangga yang baik, sampai ada yang ingin menjadi penyanyi Professional. Yah itulah cita-cita kami mudah-mudahan tercapai, asalkan harus dibarengi dengan do’a dan kerja keras insya Allah itu semua akan tercapai. Amiin

Pemaparan yang diutarakan bunda Endah selesai, Setelah itu Adjri Septiany selaku MC membuka termin pertanyaan, Fuad ruswandi mengajukan pertanyaan tentang “perbedaan antara impian dan cita-cita”. Pertanyaan ini cukup menarik perhatian orang-orang yang hadir di tempat itu, karena pertanyaan ini menggugah hati para pendengar. Sehingga diskusi itu berjalan hidup, dan kesimpulan yang dapat diambil dari diskusi ini yaitu, cita-cita mengarah kepada suatu profesi, sedangkan impian mengarah kepada suatu barang. Contohnya: ketika aku besar nanti aku ingin menjadi seorang Dokter. Itu merupakan contoh bagian dari cita-cita, sedangkan contoh dari impian, aku ingin memiliki sebuah rumah yang mewah yang di dalamnya ada mobil-mobil yang berderet. Nah”. Itulah kisah cerita dari saya mudah-mudahan bermanfaat. Amiiiiin’.

Betapa wajibnya menuntut ilmu

8 Nov

Di antara sekian banyak nikmat Allah yang telah kita rasakan, ada satu nikmat yang melandasi datangnya nikmat-nikmat yang lain, yaitu ilmu. Sebab dengan ilmu, seseorang akan dapat memahami berbagai hal dan lantaran ilmu juga, seseorang akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah, juga di kalangan manusia. Terutama jika disertai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baik dia seorang budak atau orang merdeka, seorang bawahan atau atasan, seorang rakyat jelata ataupun seorang raja. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

يَـأَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوا إِذَاقِيْـلَ لَكُمْ تَفَـسَّحُوْافِيْ الْمَجَلِسِ فَافْـسَحُوا يَفْـسَحِ اللهُ لَكُمْۖ وَإِذَا قِيْـلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍۗ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبْيْرٌ  ۝

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.”(Q.S. Al-Mujadilah: 11).

 


 

Allah ‘Azza wa Jalla menolak persamaan antara orang-orang yang memiliki ilmu dengan orang-orang yang tidak memiliki ilmu. Sebagaimana Dia menolak persamaan antara para penghuni Surga dengan para penghuni Neraka. Allah berfirman,

قُـلْ هَـلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِيْنَ لاَ يَعْلَمُونَۗ … ۝

Artinya:

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? ” (Q.S. Az-Zumar: 9).

Ayat di atas berbentuk kalimat tanya, akan tetapi pada hakikatnya mengandung arti pengingkaran. Karena orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu tidak akan pernah sama kedudukannya. Yang dapat memahami maksud tersebut hanyalah orang yang cerdas, sehingga dia dapat mengetahui nilai ilmu, kedudukan dan keutamaannya.

Pada kesempatan kali ini, dengan memohon taufik kepada Allah SWT, penulis akan menghadirkan pembahasan mengenai nikmat dan keutamaan para pemilik ilmu beserta dengan hukum dan macam-macam ilmu dalam tinjauan syari’at.

A.    DEFINISI ILMU DAN TINGKATANNYA

Ilmu adalah mengetahui sesuatu dengan yakin sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya.

Definisi ilmu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud 1988) memiliki dua pengertian yaitu:

  1. Ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan sebagainya.
  2. Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian. Tentang soal duniawi, akhirat, lahir, bathin, dan sebagainya. Seperti ilmu akhirat, ilmu akhlak, ilmu batin, ilmu sihir, dan sebagainya.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan:

Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis, dengan metode-metode.

Ilmu pada hakikatnya terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Ilmu Dharuri, adalah pengetahuan tentang suatu hal tanpa memerlukan penelitian dan pembuktian dengan menggunakan dalil (keterangan). Contohnya: pengetahuan bahwa api itu panas.

2. Ilmu Nazhari, adalah pengetahuan tentang suatu hal yang didahului oleh penelitian dan pembuktian dengan menggunakan dalil. Contohnya: pengetahuan tentang tata cara wudhu dan shalat.

Adapun tingkatan ilmu yang dimiliki oleh seseorang terbagi dalam enam tingkatan, yaitu:

1. Al-‘Ilmu, maksudnya adalah mengetahui sesuatu dengan yakin sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

2. Al-Jahlul Basith, maksudnya adalah tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu hal tertentu, sama sekali.

3. Al-Jahlul Murakkab, maksudnya tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu hal tertentu, namun dia mengaku memiliki pengetahuan tentang itu, padahal keliru dan tidak sesuai dengan realita. Disebut murakkab yang artinya bertingkat, karena terdapat dua kebodohan sekaligus pada orang tersebut, yaitu bodoh karena dia tidak mengetahui yang sebenarnya dan bodoh karena dia beranggapan bahwa dia mengetahui yang sebenarnya, padahal dia tidak mengetahui.

 4. Azh-Zhann, maksudnya adalah mengetahui sesuatu yang kemungkinan benarnya lebih besar dari pada salahnya. Kata yang mirip dalam bahasa kita adalah dugaan kuat.

5. Al-Wahm, maksudnya adalah mengetahui sesuatu yang kemungkinan salahnya lebih besar dari pada benarnya. Atau mirip dengan dugaan lemah atau salah paham.

6. Asy-Syakk, maksudnya adalah mengetahui sesuatu yang kemungkinan benar dan salahnya seimbang.

[Lihat Syarah Tsalatsatil Ushul (hal. 18-19), Syarh Ushul min ‘Ilmil Ushul (hal. 71-72), Ushul Fiqh Terjemah (hal. 25), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 16-17)]

B.     KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU

Ilmu adalah sayyidul ‘amal (penghulunya amal), sehingga tidak ada satu amalan pun yang dilakukan tanpa didasari dengan ilmu. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kaidah yang telah disepakati ummat,

اَلْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

Ilmu dahulu sebelum berkata dan berbuat.”

[Lihat Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Ilmu, Bab Al-‘Ilmu Qablal Qaul wal ‘Amal (I/119)].

Ilmu juga merupakan makanan pokok bagi jiwa, yang karenanya jiwa akan menjadi hidup dan jasad akan memiliki adab. Oleh karena itu, Islam mewajibkan ummatnya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu. Dan hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

 

 

C.    Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”

[Hadits shahih li ghairihi, diriwayatkan Ibnu Majah (no. 224), dari jalur Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu. Hadits ini diriwayatkan pula oleh sekelompok para shahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudriy, Al-Husain bin ‘Ali, dan Jabir Radhiyallahu’anhum. Para ulama ahli hadits telah menerangkan jalur-jalur hadits ini dalam kitab-kitab mereka, seperti: Imam As-Suyuthi dalam kitab Juz Thuruqi Hadits Tholabil Ilmi Faridhotun ’Ala Kulli Muslimin, Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Wahiyat (I/67-71), Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/69-97), dan Syaikh Al-Albani dalam kitab Takhrij Musykilah Al-Faqr (hal. 48-62)].

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendakwahkan Islam kepada para Shahabat atas dasar ilmu. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman dalam surat (Yusuf 12 : 108},

قُلْ هَـذِهِ سَبِيْلِى أَدْعُواإِلَى اللهِۚ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِىۖ … ۝

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Inilah jalanku yang lurus, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu.’” (Qs. Yusuf {12}: 108)

D.    ILMU YANG WAJIB DICARI

Tidak setiap ilmu boleh untuk dicari dan dipelajari, sebab ada ilmu yang dilarang untuk dipelajari.Hanya ilmu yang bermanfaat sajalah yang boleh untuk dicari dan dipelajari. Karena ilmu yang bermanfaat menempati kedudukan yang terpuji, seperti kisah Nabi Adam ‘Alaihis Salam yang diajarkan oleh Allah Ta’ala tentang nama-nama segala sesuatu, kemudian Nabi Adam memberitahukannya kepada para Malaikat dan para Malaikat pun berkata,

قَالُوا سُبْحَـنَكَ لاَ عِلْمَ لَنَآ إِلاَّ مَاعَلَّمْتَنَآۖ إِنَكَ أَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ ۝

Artinya: “Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.’” (Q.S. Al-Baqarah: 32)

Demikian juga disebutkan dalam kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam dengan Nabi Khidhir ‘alaihis salam, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Ta’ala berikut,

فَوَجَدَا عَبْـدًا مِّنْ عِبَـادِنَـآاَتَيْنَـهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْـدِنَـا وَعَلَّمْنَـهُ مِنْ لَّـدُنَّا عِلْمًا ۝ قَالَ لَهُ مُوسَى هَـلْ أَتَّبِعُـكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْـدًا ۝

Artinya: “Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya.‘Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?’” (Q.S. Al-Kahfi:{18}: 65-66).

Semua ayat di atas berbicara tentang ilmu yang bermanfaat. Hanya saja, tidak semua orang bisa mendapatkan manfaat dari ilmu yang bermanfaat ini. Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan tentang keadaan suatu kaum yang diberikan ilmu, tetapi ilmu yang ada pada mereka tidak memberi manfaat sama sekali bagi mereka. Padahal, ilmu yang mereka miliki adalah ilmu yang bermanfaat, namun demikian mereka tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Jalla Dzikruhu,

مَثَـلُ الَّذِيْنَ حُـمِّلُوا التَّوْرَىةَ ثُـمَّ لَـمْ يَحْـمِلُوهَاكَمَـثَـلِ الْحِـمَارِ يَحْمِـلُ أَسْفَـارَاۚ بِئْـسَ مَثَـلُ الْقَـوْمِ الَّذِيْنَ كَـذَّ بُوْا بِـئَا يَتِ اللهِۚ وَاللهُ لاَ يَهْـدِى الْقَـوْمَ الظَّـلِمِيْنَ ۝

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”(Qs. Al-Jumu’ah: 5).

Sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang menjadi penyakit dalam agama dan memiliki kecenderungan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, seperti ilmu kalam (logika), ilmu filsafat, dan semisalnya. Selain itu, ada juga ilmu yang tercela, seperti ilmu sihir dan perdukunan.Ilmu tersebut merupakan ilmu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia apalagi di akhirat. Allah Subhanahu Wa  Ta’ala berfirman,

وَيَتَعَـلَّمُونَ مَـا يَضُـرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْۚ وَلَقَـدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَىهُ مَالَهُ فَى الْأَخِـرَةِ مِنْ خَلَقِۚ وَلَبِئْسَ مَاشَـرَوْا بِهِ أَنْفُـسَـهُمْۚ لَوْكَـانُوْا يَعْـلَمُونَ  ۝

وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (١٠٢

Artinya: “Dan mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (Kitabullah) dengan sihir itu, niscaya tidak mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 102).

Yahya bin ‘Ammar rahimahullah pernah berkata, “Ilmu itu ada lima (jenis), yaitu: (1) ilmu yang menjadi ruh (kehidupan) bagi agama, yaitu ilmu tauhid; (2) ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna-makna Al-Qur’an dan hadits; (3) ilmu yang menjadi obat (penyembuh) bagi agama, yaitu ilmu fatwa. Ketika seseorang tertimpa sebuah musibah maka ia membutuhkan orang yang mampu menyembuhkannya dari musibah tersebut, sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu. (4) ilmu yang menjadi penyakit dalam agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan (5) ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang semisalnya.” [Lihat Majmu’ Fatawa (X/145-146), Siyar A’lamin Nubala’ (XVII/482), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 28-29)]

Demikianlah perbedaan antara ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat.

Adapun pengertian dari ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keterangan dan petunjuk, dimana mempelajari ilmu ini berhak mendapatkan pujian dan sanjungan. [Lihat Kitabul ‘Ilmi (hal. 13), Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 15), Bahjatun Nazhirin (II/461), dan Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah (IV/281)].

Imam Al-Auza’i Rahimahullah berkata, “Ilmu (yang bermanfaat) adalah apa yang berasal dari para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan apa saja yang datang bukan dari salah seorang dikalangan mereka maka itu bukanlah ilmu (yang bermanfaat).” [Lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/500, no. 1067 dan I/617, no. 1421), Fadhlu ‘Ilmi Salaf (hal. 42), Bahjatun Nazhirin (II/461), Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah (IV/283), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 16 dan 22)].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah pun pernah berkata, “Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung (matematika), ilmu pertanian, dan ilmu perdagangan.” [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (VI/388 dan XIII/136), Madarijus Salikin (II/488), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 20-21)]

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahullah pernah berkata, “Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan perkataan para Shahabat.” [Lihat I’lamul Muwaqqi’in (II/149) dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 22)].

Adapun ilmu yang bersifat keduniawian, seperti ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu ekonomi, dan yang lainnya, ada yang sangat dibutuhkan umat Muslim. Namun, ilmu-ilmu tersebut tidak termasuk dalam kategori ilmu syar’i, sebagaimana disebutkan dalam dalil yang tercantum dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, hukum menuntut ilmu duniawi tergantung kepada tujuan dan kebutuhannya, apabila tujuannya adalah untuk ketaatan kepada Allah maka hal itu akan menjadi baik dan apabila dengan mempelajarinya dapat memenuhi kebutuhan kaum muslimin maka hal itu dapat menjadi wajib. [Lihat Kitabul ‘Ilmi (hal. 13-14)]

Dengan demikian, kita dapat membagi hukum menuntut ilmu menjadi tiga, yaitu:

1. Fardhu ‘ain, dimana hukumnya adalah wajib untuk diketahui oleh setiap individu. Ilmu yang tercakup dalam hukum ini adalah semua ilmu syar’i yang yang menjadi pengetahuan dasar tentang agama, baik permasalahan ushul (asas) seperti akidah, tauhid dan manhaj, sampai permasalahan furu’ (cabang) seperti shalat, zakat, sedekah, haji, dan semisalnya.

2. Fardhu kifayah,  dimana hukumnya tidak wajib atas setiap individu, sebab tidak mungkin semua orang dapat mempelajarinya. Kalaupun diwajibkan atas setiap individu, tidak semua orang dapat melakukannya, bahkan mungkin saja dapat menghambat jalan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya sebagian orang saja yang diberi kemudahan oleh Allah untuk mempelajarinya dengan rahmat dan hikmah-Nya.

Apabila sebagian orang telah mengetahui dan mempelajarinya maka gugurlah kewajiban lainnya. Namun, jika tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengetahui dan mempelajarinya, padahal mereka amat membutuhkan ilmu tersebut maka mereka semua berdosa karenanya.

Contohnya adalah ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu waris, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu fiqih, ilmu pemerintahan, dan lain sebagainya. [Lihat Tafsir Al-Qurthubi (VIII/187), Thariq ilal ‘Ilmi As-Subulun Naji’ah li Thalabil ‘Ulumin Nafi’ah (hal. 18-19), dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 6-7 dan 17)].

3. Haram, dimana hukumnya terlarang untuk dicari dan dipelajari, karena akan membawa pelakunya kepada kesesatan, kemaksiatan, bahkan kesyirikan kepada Allah SWT. Diantara ilmu yang termasuk dalam hukum ini adalah ilmu sihir. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَ يَتَعَـلَّمُونَ مَـا يَضُـرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْۚ وَلَقَـدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَىهُ مَالَهُ فَى الْأَخِـرَةِ مِنْ خَلَقِۚ وَلَبِئْسَ مَاشَـرَوْا بِهِ أَنْفُـسَـهُمْۚ لَوْكَـانُوْا يَعْـلَمُونَ ۝

Artinya: “Dan mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (Kitabullah) dengan sihir itu, niscaya tidak mendapat keuntungan di akhirat. Sungguh sangat buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah {2}: 102)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda,

إِجْتَنِـبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَـاتِ، قَالُوا: يَـا رَسُولَ اللهِ وَمَـاهُنَّ؟ قَـالَ: الشَّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَـتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهَ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَـا، وَأَكْلُ مَـالِ الْيَتِيْـمِ، وَالتَّوَ لَّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَـذْفُ الْمُحْصَنَـاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ .

Artinya: “Hindarilah (oleh kalian) tujuh perkara yang membinasakan.’ Mereka bertanya, ‘Apakah itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan cara yang benar, memakan harta riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan melempar tuduhan zina kepada wanita mukminah yang terjaga kesucian dan kehormatannya dari perbuatan dosa dan mereka tidak mengetahui tentang hal itu.’” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 2615), Muslim (no. 258), Abu Dawud (no. 2874), dan An-Nasa’i (no. 3673), dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu].

Hadits di atas menyebutkan tentang perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjauhi sihir dan menjelaskan bahwa sihir termasuk dalam perbuatan dosa besar yang membinasakan. Ini menunjukkan bahwa sihir dapat membinasakan pelakunya di dunia maupun di akhirat. [Lihat Hukmus Sihri wal Kahanah (hal. 5)].

Tidak ada perbedaan bagi laki-laki maupun perempuan, mulai dari orang tua ataupun anak-anak, pejabat atau karyawan, si kaya atau si miskin, semuanya sama dalam kewajiban menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena dengan ilmu tersebut, dia akan dapat mengetahui dan mengamalkan berbagai amalan shalih dengan baik, yang amalan-amalan tersebut akan dapat mengantarkannya ke Surga. Amiiin…

BAHAGIAKU..

9 Okt

               Sengatan panas yang menyelimuti  daerah  Ciputat dari hari ke hari semakin bergejolak, kendaraanpun berderetan seperti semut yang sedang berjalan mencari makanan, sebagian orang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.  Ada yang mencari penghidupan dengan cara meminta-minta, adapula yang mengamen. Apapun yang mereka lakukan hanya untuk mencari sesuap nasi,demi untuk bertahan hidup. Adapun sebagian mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sibuk pula dengan aktifitasnya masing- masing. Ada yang ke perpustakaan untuk mencari bahan presentasi tugas kuliah, ada juga yang sedang makan di kantin. Motor-motor berderetan hampir di seluruh kawasan kampus UIN, karena kebanyakan mahasiswa ataupun dosen berangkat ke kampus dengan mengendarai sepeda motor. Adapula yang berangkat ke kampus dengan berjalaan kaki.

               Suatu hari, ketika seorangConductor (pelatih) Paduan Suara Mahasiswa, atau yang lebih Kita kenal dengan sebutan PSM, mengumumkan suatu kabar gembira kepada anggota paduan suara UIN Jakarta. Seorang pelatih berujar,“Teman-teman, sebentar lagi kita akan mengadakan Pentas Tahunan, saya ingin kita menyiapkan konser ini dengan serius dan yang tidak serius dipersilakan untuk tidak mengikuti konser. Tujuan kita mengadakan konser ini agar Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UIN Jakarta lebih dikenal oleh masyarakat luas dan kalangan Mahasiswa, kebetulan konser ini diadakan bertepatan dengan tahun ajaran baru. Tujuan kita yang paling utama adalah supaya bisa merekrut anak-anak baru dan saya mau kita tidak main-main dalam latihan ini, dibutuhkan keseriusan.”

              Redi, salah seorang anggota PSM UIN Jakarta berkata ”.iya Kak, kayanya sudah jarang sekali kita tidak menghibur masyarakat dan para mahasiswa lagi Kak, kayanya seru tuh. Itung-itung sekalian menguji mental kita Kak.” Anggota PSM UIN Jakarta yang lain pun ikut senang, mereka bersorak serentak dengan mengucapkan kata “SETUJUUU kak”. Dalam berlatih dengan serius, berdo’a, dan bersungguh-sungguhlah yang insya Allah dapat membantu kami tampil semaksimal mungkin. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat At-Taubah(9): 105

وَقُلِاعْمَلُوافَسَيَرَىاللَّهُعَمَلَكُمْوَرَسُولُهُوَالْمُؤْمِنُونَوَسَتُرَدُّونَإِلَىعَالِمِالْغَيْبِوَالشَّهَادَةِفَيُنَبِّئُكُمْبِمَاكُنْتُمْتَعْمَلُون

              “Dan Katakanlah: “Bekerjalah Kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan Kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(Q.S. At- Taubah {9} : 105)

              Hari demi hari telah kami lewati, banyak cobaan dan rintangan yang kami hadapi, cobaan terberat mungkin dirasakan oleh sang pelatih.  Untuk menjadi seorang pelatih dalam Kelompok Paduan Suara dibutuhkan mental yang sangat kuat, terutama dalam menghadapi Mahasiswa/Mahasiswi UIN Jakarta. Tidak semua dari anggota paduan suara disiplin. Ada juga sebagian dari mereka yang indisipliner. Oleh karena itu menjadi seorang pelatih harus ekstra sabar, sebagaimana Firman Allah SWT dalam (surat Al- Baqarah {2} : 157) yang berbunyi:

الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

           “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

               (Q.S Al- Anfal {8} : 66)

           Yang dituntut untuk bersabar Tidak hanya seorang pelatih saja, seluruh anggota paduan suara pun juga harus memiliki kesabaran ekstra. Dibutuhkan kerjasama antara pelatih dengan penyanyinya, dan seorang Pelatih harus menjaga sikap terhadap penyanyi supaya mood para penyanyi dalam menyanyikan lagu-lagu yang akan dinyanyikan bisa berekspresi semaksimal mungkin. Bayangkan jika para penyanyi tidak mood dalam menyanyikan lagu-lagu yang akan dibawakan, pasti nyanyinyapun kacau tidak karuan.

PSM UIN Jakarta..

             Lima bulan lamanya kita latihan, tidak terasa waktu cepat berlalu. Akhirnya disepakati oleh semua pihak, baik dari pelatihnya maupun para penyanyi bahwasanya konser PSM UIN Jakarta akan di selenggarakan pada hari Jum’at tanggal 30 september 2011. Rencananya kita akan mengadakan konser dua kali, yakni di aula Student Centre dan di Erasmus Huis (Kedutaan Belanda) yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober mendatang. Para penyanyi terjun kelapangan untuk mempersiapkan konser PSM UIN Jakarta yang tidak lama lagi akan berlangsung. Ada yang mengantar surat undangan ke pejabat-pejabat Uin, yakni ke Pudek 1 dan Pudek 2,  adapula yang menjual tiket, kemudian sebagian yang lain memasang banner dan menyebarkan pamplet ke Mahasiswa/Mahasiswi. Memasang panggung dan dekorasi aula pun kami yang melakukannya, memang harus dilakukan seperti itu karena dengan berbuat seperti itu kebersamaan dan rasa kekeluargaan pun akan terjadi dengan sendirinya.

           Dua hari sebelum hari H, kita mengadakan geladi kotor di aula, semua perlengkapan konser pun dipasang, termasuk memakai Kostum, penyanyi perempuan menggunakan kostum biru,  jilbab warna krem dan sepatu Hil’s, sedangkan penyanyi laki- laki menggunakan kemeja warna biru, jas warna silver dan sepatu pantoefl.

             Tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yakni hari Jum’at malam. Konser dilaksanakan pada jam 19.00 WIB. Penonton berdatangan ke aula satu-persatu, perasaan tegang, cemas, dan takutpun kami rasakan. Tapi kami percaya kami bisa melakukan performance yang terbaik. Sebelum memulai menyanyi kita mengutamakan ber’doa terlebih dahulu, karena dengan berd’oa akan menjadi kekuatan buat kami. Dan kami percaya akan hal itu, karena kami percaya Allah bersama kami.

            Selangkah demi selangkah kami naik ke atas panggung, hanya mungkin perasaan tegang yang dapat kami rasakan. Tetapi kami percaya kami BISAAAA.. Bismillahirrahmanirrahim… lagu pertama yang kami bawakan yakni lagu “Tadarus”, dilanjutkan dengan lagu kedua “O inani keke” lagu daerah asal Papua, kemudian menyusul lagu ketiga, keempat, dan lagu-lagu berikutnya. Perasaan bahagia menyertai kami ketika penonton bersorak meneriaki kami dengan kata “ Wikwiiiw… Wikwiiw… Wikwiiiw… apalagi di lagu ke tujuh lagu “Terlena” yang di populerkan oleh Ikke Nurjannah, solist-nya bernama Rit wahyuni, banyak para penonton yang memuji Rit. Ujar salah seorang penonton “suaranya enak didengar, dan merdu. Allhamdulillah ternyata perjuangan kita selama lima bulan lamanya ternyata tidak sia-sia. Dan para penonton pun merasa terhibur dengan penampilan PSM UIN Jakarta. Banyak perkataan dari para penonton yang bilang ternyata tidak sia-sia datang kesini, nyanyiannya bagus dan memuaskan, hanya perasaan syukur yang dapat kami ucapkan. Mudah-mudahan, konser di Erasmus Huis (Kedutaan Belanda) bisa lebih baik dibandingkan dengan konser yang di Aula SC. Amiiiiiiiiiiiiiin…